Kamis, 24 Juli 2008
Tundukkan Pandangan Agar Hati Menjadi Tenang
"Maka barangsiapa yang durhaka dan mengutamakan kehidupan dunia, sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Adapun orang yang takut akan kebesaran Alloh dan menahan dirinya dari gejolak nafsunya, sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya". (QS. An-Naazi'at(79): 37-41)
Alhamdulillah Ya Alloh, sungguh kebesaran dan kesempurnaan kasih sayang-Mu benar-benar begitu mengesankan. Meskipun Engkau kami khianati setiap saat, walaupun telah Engkau saksikan dengan jelas kemaksiatan demi kemaksiatan yang kami lakukan setiap saat, tapi toh masih Kau limpahkan segala curahan nikmat yang tiada terputus setiap saat.
Padahal Engkau Mahatahu betapa mata ini jarang sekali membaca Al-Qur'an, akan tetapi tetap saja Engkau biarkan mata ini. Padahal mudah saja bagi-Mu untuk mencungkil kedua mata ini, Engkau butakan saja mata yang selalu bermaksiat ini. Toh Engkau yang telah menciptakannya. Engkaupun tahu telinga ini begitu banyak mendengarkan segala hal yang sia-sia, bahkan maksiat. Segala gosip, berbagai musik bahkan segala yang maksiat selalu masuk ke telinga ini. Jarang suara merdu Al-Quran kami dengar, juga petuah para Ulama' hampir tak pernah kami dengarkan. Tapi mengapa Engkau tidak buat saja telinga ini menjadi tuli? Sebaliknya, tetap saja telinga ini Engkau biarkan sehat sehingga kami dapat mendengarkan merdunya suara ayah dan ibu juga teman-teman.
Banyak sekali 'virus' perusak hati yang harus diwaspadai. Salah satunya adalah tidak pendainya kita menjaga pendangan. Gara-gara pandangan, hati kita bisa menjadi kotor, busuk, dan keras membatu. Barangsiapa yang di dunia ini tidak pintar menjaga pendangan, gemar melihat hal-hal yang diharamkan Alloh, maka jangan terlalu berharap dapat memiliki hati yang bersih.
Umar bin Khatab ra pernah berkata: "Lebih baik aku berjalan dibelakang singa daripada berjalan dibelakang wanita". Orang-orang yang sengaja mengobral pandangannya terhadap hal-hal yang tidak haq bagi dirinya, tidak usah heran jika hatinya lambat laun akan semakin keras membatu dan nikmat imanpun akan semakin hilang manisnya.
Tidak hanya terhadap lawan jenis. Tetapi juga, orang yang matanya selalu melihat dunia ini, melihat suatu yang tidak ia miliki; rumah orang lain yang lebih mewah, mobil tetangga yang lebih bagus, atau uang juragan yang lebih banyak. Hatinya akan terus bergejolak memikirkan segala hal yang tidak dimilikinya daripada menikmati apa-apa yang dimilikinya.
Maka kunci bagi orang yang ingin memiliki hati yang bersih dan tenang adalah tundukkan pandangan! Mendapati lawan jenis yang bukan muhrim, cepat-cepatlah tundukkan pandangan karena berawalnya maksiat itu tiada lain dari pandangan.
Jika melihat dunia, jangan gemar melihat keatas. Akan capek kita jadinya karena selalu bergejolak melihat apa-apa yang dimiliki orang lain. Mati-matian kita menginginkan sesuatu tapi kalau itu bukan rezeki kita maka tidak akan kita dapatkan. Lebih baik lihatlah kebawah. Lihatlah orang yang lebih fakir dan lebih menderita daripada kita. Kunjungilah rumah sakit untuk melihat orang-orang yang sakit niscaya kita akan mensyukuri nikmat sehat ini. Ziarahilah kuburan agar tumbuh rasa syukur atas nikmat hidup ini. Semakin sering melikat kebawah, Subhanalloh, hati ini akan semakin penuh syukur.
Jika kita melihat ke atas, tancapkan pandangan kita ke 'Atas' sekaligus, kepada Dzat Penguasa alam semesta. Allohu Akhbar! Lihatlah kemahakuasaan-Nya. Allohlah Maha Kaya dan tidak akan pernah berkurang kekayaan-Nya walaupun selalu kita berbuat dosa dan mohon ampun setiap saat, niscaya ampunan Alloh akan selalu dicurahkan.
Orang yang selalu melihat ke atas dalam urusan dunia niscaya hatinya akan cepat kotor dan hancur. Sebaliknya, barangsiapa yang selalu tunduk dalam melihat dunia dan tengadah dalam melihat kebesaran Alloh, maka hatinya akan senantiasa bersih dan sehat.
Sumber: eramuslim
Diposting oleh Bakti_online di 10.01 1 komentar
Bunda, Binar Matamu adalah Surga....
Kemarin, aku pulang ke Bandung. Aku sudah kangen sama ibu. Lagi pula aku ingin liburan, setelah 6 hari full kerja. Saat tiba di rumah, tak ada siapa-siapa, hanya kakaku yang membuka pintu rumah. Setelah menyimpan tas di kuris. Aku rebahan di sofa. Tak lama, aku tertidur lelap di kursi, dibuai nyenyak udara Bandung yang dingin.
Tidurku tiba-tiba terganggu. Sebuah tangan menepuk pundakku. “Subuh, ayo cepet subuh, bentar lagi matahari tiba,” teriak Bunda. Aku tahu Bunda paling sering membangunkanku untuk solat subuh. Ia sepertinya sungkan kalau harus membangunkanku tepat saat adzan subuh. Ia lebih memilih 15 menit menjelang matahari muncul untuk menyuruhku bangun. Ia tahu kalau aku sering tampak kelelahan.
“Hallo Bunda…assalamualaikum…” sapaku, di pagi itu. “wa’alaikum salam,” jawab Bunda. “Ayo cepet solat, tuh udah siang,” tambah Bunda. Aku berlari menuju kamar mandi. Beres solat, aku memilih tidur lagi di kamar. Saat aku mulai memejamkan mata, pintu kamarku terbuka pelan. Aku tahu pasti yang membuka pintu adalah Bunda. Aku tahu, tiap kali aku pulang, Bunda selalu saja membuka pintu kamarku hanya untuk memandangku. Ya, menatapku sejenak saja. Ia seperti memandangku lemas. Sesekali ia memandangku gelisah.
Entahlah, pagi itu aku merasakan ada tatapan Bunda aneh dari tatapan matanya yang lain. Tatap mata Bunda begitu menarik perhatianku. Tapi..akh mungkin Bunda hanya kangen padaku. Hingga, tatapan matanya begitu panjang. “Duh, Bunda, meski tubuhmu rapuh, engkau masih saja memperhatikanku dengan matamu yang dipenuhi rasa kasih. Meski aku sudah dewasa, engaku maih saja menyimpan rasa perhatianmu untukku. Perhatian teduh yang menyejukanku. “Nak sarapan dulu….” Lamunanku dikejutkan panggilan Bunda. “ Iya Buda…”
“Bunda sehat?” kataku.”Sehat Nak,” jawab Bunda. Aku pun terus makan. Dan dihadapanku masih ada Bunda yang terus menatapku. Dan aku bisa merasakannya. “Ada apa Bu, kok ibu ngelamun?” “Ah…nggak, ngga ada apa-apa kok…,” jawab ibu.
“Bu, ini ada uang sedikit, buat ibu. Buat apa aja yang ibu mau. Kalu kurang ibu bilang aja sama Badar.” Setengah terkejut ibu memandangku, ”Apa ibu nggak salah Nak. Udah simpan saja uang itu untukmu,” kata Bunda. “Buat bunda aja. Aku ingin Bunda merasakan gaji pertamaku. Ya, gaji hasil kerja pertamaku..” Bunda tersenyum. Ia menatapku tajam. Tak lama, ada nanar air mata di kelopak mata ibu. Bunda kelihatannya terharu.
“Nak…simpan saja uang ini. Buat beli-beli buku atau apa kek,” kata Bunda. Bunda tahu kalau aku senang membaca, karena itu ia berkata seperti itu. “Nggak Bu, buat Ibu aja…” Ibu kemudian pergi ke kamar. Ia menutup rapat pintu kamarnya. Dalam lirih suara angin, aku mendengar sengguk tangis bunda. Aku tak mengerti.
Tepat puku 4 sore, aku pamit sama Bunda. Senin pagi, aku harus berada lagi di Jakarta. Cium tangan dan peluk aku berikan buat Bunda. Saat pergi meninggalkan rumah, Bunda masih saja menatapku. Tatapannya hening dan sunyi. Aku melambaikan tangan; sun jauh buat Bunda. Dan aku melihat Bunda masih saja menatapku nanar, aku merasakannya.
Entahlah, aku tak tau ada apa dengan Bunda. Aku hanya menduga Bunda mungkin kangen sama aku. Disebut sakit, tidak juga. Tubuhnya masih terlihat kuat dan sehat. Entahlah…
Tiba-tiba HP-ku berbunyi. Sebuah SMS datang menyapaku: “Bunda sering nangis kalau udah lihat berita di TV. Apalagi kalau udah liat berita kriminal dan kehidupan di Jakarta. Bunda cemas banget sama Ade. Di suka ngomong; Gimana ya Ade kabarnnya..mudah2an selamet.”
Aku baru sadar bahwa isyarat mata Bunda adalah kecemasan. Kekhawatiran seorang Bunda pada anaknya yang mulai menempa diri. Mandiri di kota yang jauh. Entahlan, air mataku tiba-tiba jatuh. Aku merasakan sesak mulai menghimpit dada. Matahari sore masih memagut sepi. Bibirku bergetar mengenang tatap mata bunda. Binar matamu adalah syurga. Nanar cemasmu adalah kasih. Terima kasih Bunda.
Kupersembahkan Buat semua para Bunda. Nanar matamu adalah syurga….
Graha Pena-jakarta
gerimispagiku@yahoo.com
Sumber; eramuslim
Label: Bunda
Diposting oleh Bakti_online di 09.57 0 komentar
